Sabtu - 15 Mei 2016

Ternyata Begini CARA BERDAGANGNYA IMAM ABU HANIFAH


Foto Ilustrasi - by getty images

Panggilan dari Surau - Selain tersohor sebagai ulama fikih, Imam Abu Hanifah juga berprofesi sebagai saudagar. Meski memiliki karyawan, ia masih sering terjun langsung ke lapangan guna mengontrol bisnisnya. Dalam menjalankan bisnisnya Abu Hanifah menjadikan kejujuran sebagai fondasinya.

Pendiri mazhab Hanafi ini tidak hanya mencari keuntungan pribadi, namun juga memikirkan keuntungan pelanggan atau teman bisnisnya.

Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah

Suatu hari datang kepadanya seorang wanita menawarkan kain sutra. Abu Hanifah menanyakan harga yang dipatok oleh si pemilik kain sutra. “Seratus dirham,” sebut wanita itu.

Paham harga kain sutra yang diajukan kepadanya, Abu Hanifah pun menimpali, “Pakaian seperti ini bisa dijual lebih tinggi dari seratus dirham.” Perempuan itu akhirnya menaikkan harga sutranya menjadi dua kali lipat. Kali ini harga yang dipatok 200 dirham.

Anehnya, meski sudah dinaikkan dua kali lipat dari harga awalnya, Abu Hanifah masih mengatakan kepada si perempuan dengan hal yang sama, bahwa harga kain sutra miliknya masih bisa dinaikkan. Akhirnya, perempuan itu mematok harga kain sutranya menjadi 400 dirham.

Di luar dugaan si perempuan itu, untuk kesekian kalinya kembali Abu Hanifah mengatakan pernyataan yang sama, bahwa harga kain sutra itu masih bisa dinaikkan lebih tinggi lagi. Kali ini justru si perempuan merasa dihina oleh Abu Hanifah, “Anda pasti menghinaku,” ucapnya.

Abu Hanifah kemudian berkata dengan lembut, “Cobalah Anda mencari seorang ahli menaksir harga barang, saya tidak ingin menzalimi Anda,” katanya. Lalu si perempuan itu mendatangkan seorang ahli taksir harga barang. Setelah berjumpa, Abu Hanifah segera memintanya untuk menaksir harga barang yang ditawarkan oleh perempuan itu. Penaksir kemudian menaksir barang tersebut dengan harga 500 dirham. Akhirnya Abu Hanifah membelinya.

Ada contoh lain yang menunjukkan kejujurannya dalam berbisnis. Di hari yang berbeda, ada seorang perempuan tua yang sedang mengalami permasalahan ekonomi datang kepada Abu Hanifah hendak membeli suatu barang yang menjadi hajatnya, seraya berkata; “Saya sedang dalam kondisi susah, saya mengharap Anda tidak mengambil laba dari barang ini. Jika Anda berkenan juallah pakaian ini dengan harga pokok.

Seketika juga Abu Hanifah memenuhi permohonan si wanita. “Ambillah barang ini dengan harga empat dirham,” jawab Abu Hanifah. Mendengar jumlah harga yang disebut, si perempuan sontak merasa sedang diledek. Karena menurutnya harga barang yang hendak dibelinya itu dihargai begitu murah.

“Anda bilang apa? Apa Anda sedang menghina saya? Saya ini telah tua mengapa Anda menghinaku?” Menangkap ada kesalahpahaman maka dengan lembut Abu Hanifah pun menjelaskan duduk persoalannya, “Demi Allah saya tidak menghina Anda wahai Ibu. Anda bilang juallah pakaian ini dengan harga pokok dan jangan mengambil laba? Saya telah menjalankan apa yang Anda pinta. Saya membeli dua pakaian, yang satu saya jual dengan harga pokok yaitu empat dirham, sementara sisanya yaitu baju ini, saya harus menjualnya dengan harga empat dirham pula.”

Mendengar penjelasan dari Abu Hanifah, seketika terlihat wajah ibu itu berseri-seri. Ia lalu mendoakan Abu Hanifah agar mendapatkan keuntungan yang melimpah serta berkah dari Allah SWT. (pds)


Robinsah,
Suara Hidayatullah-MARET 2016

Komentar