Burung Kakatua Sang Kiyai Foto Ilustrasi PANGGILAN dari SURAU - Di sebuah desa ada seorang alim ulama’ juga mursyid thoriqoh yg memelihara burung kakatua. Setiap hari mursyid itu mengajarkan kalimat thoyyibah seperti ” assalamu’allaikum… Bismillahirrohman nirrohim... Juga asma asma allah… Ya rahman… Ya rahim dll hingga si burung itu sangat fasih mengucapkannya ” Pada suatu hari burung itu lepas dan salah seorang santri guru mursyid tersebut melihat dan mengejarnya. Namun akhirnya burung itu berhenti di tengah jalan dan tertabrak mobil. Santri itu pun melihat dan mendengar bunyi “Kweekkk.. ( jeritan si burung itu mati terlindas mobil). Santri tersebut lalu pulang dan melaporkam kejadian itu kepada guru mursyidnya. Santri : Abah burung kakatua kesayangan Abah mati terlindas mobil di jalan tadi bah… Guru mursyid : Benarkah…??? Lantas apa suara terakhir yang burung kakatua saya katakan..? Santri : Burung itu bersuara ” kwaakkk…” Lantas sang guru menangis dan terlihat sangat sedih hatinya. Dan kesedihan itu berjalan sampai berminggu-minggu lamanya. Si santri yg melihat kejadian itu pun sowan kepada guru mursyidnya yang masih dirndung sedih. Dia dan kawan-kawan santrinya berniat mengganti burung kakatua kesayangan guru mereka itu. Santri : Abah… kalau Abah berkenan, kami akan membelikan burung kakatua buat Abah sebagai pengganti yang mati kemarin, supaya Abah tidak larut dalamkesedihan. Guru Mursyid : Nak… Abah itu gak bersedih karena burung kakatua abah mati… Tapi abah bersedih karena… abah itu setiap hari sudah mengajarkan kalimat thoyyibah dan dzikir hingga sampai fasih diucapkan burung itu. Dan kalimat thoyyibah itu lantang diucapkannya setiap hari. Tapi ternyata saat ajal tiba, burung itu tak ada satu pun kalimat thoyyibah yang diucapkannya, malah suara “kwaakkk,” saat ajal menjemputnya. Lantas bagaimana nanti dengan aku ini, yang setiap hari berdzikir dan beribadah, apakah nanti saat ajal tiba aku bisa mengucapkan syahadat atau malah justru kalimat “kwaaakkk” karena saking sakitnya roh dicabut dari jasadku. (pds) Kisah ini terinspisari dari dawuh Abah Nuril (Sehebat apapun ibadah dan dzikirmu, jika hati tak mengiringinya, maka kegelapanlah sebagai akhir perjalananmu) - Suluk Santri. sumber islamuna.info. Googlenya Aswaja Komentar 23 Mei 2016 by Panggilan Dari Surau 406 viewson Kisah Share Artikel Facebook Twitter Google Plus Pinterest Linkedin Mail this Article Print this Article Tags: burung kakatua, guru mursyid, santri